Waroeng Kopi Klotok Pakem : wisata kuliner pembuka mata hati


Yogyakarta memang selalu kaya akan kenangan. Baik itu pendidikan, perjalanan maupun versi kulineran. Tak dapat dipungkiri hampir semua orang yang pernah menjelajah Yogyakarta pasti dikemudian harinya ingin selalu kembali kesana lagi. Ketika bulan Maret lalu ke Yogya, sebenarnya masih menyimpan decak kagum terhadap suatu tempat yang mulai hits disana. Walau tak memiliki akun Instagram resmi, tapi tempat ini sudah mengantongi tag-tagan dari para user Instagram dengan #kopiklotokpakem sebanyak 3.549 kiriman. Nama tempatnya adalah Kopi Klotok yang terletak di Jl. Kaliurang Km 16 Pakem Sleman D.I. Yogyakarta. 

Berawal dari perjalanan kami ke lava tour merapi untuk hunting sunrise, lalu setelah itu bingung mau sarapan dimana karena takut tempat makan enak belum ada yang buka sedangkan saat itu masih sekitar pukul 8 pagi. Akhirnya, teman yang kebetulan asli Yogya merekomendasikan Kopi Klotok. Ohiya banyak artis juga ternyata yang sudah menjajal cita rasa dari tempat makan ini, bahkan Ibu Sri Mulyani juga. 

Ketika mengunjungi tempat ini, aku beserta 5 orang teman membagi tugas karena suasana yang crowded dan harus berebutan tempat makan dengan pengunjung lain. Untungnya masih ada tikar yang sengaja disediakan bila kursi sudah dipenuhi pengunjung. 3 orang mengantri makanan, 2 orang mengantri minuman dan satu orang menjaga lapak supaya tidak diklaim pengunjung lain yang semakin banyak. Sekitar satu jam barulah kami terkumpul dan sudah memenuhi tugas masing- masing. Akirnya breakfast beserta lunch digabung menjadi satu karena setelah dari sini akan mengunjungi destinasi lain.

Usut punya usut, walaupun namanya warung kopi tapi tenang saja karena terdapat makanan berat sebagai menu utamanya. Belum lagi tempat yang nyaman dan luas dengan suasana pinggir sawah dan berada dikaki gunung merapi menjadikan tempat ini tak pernah sepi. Walau antri bagaimanapun panjangnya, para pengunjung tetap sabar mengantri loh !


Untuk harga sendiri, masih sangat rasional bahkan bisa puas dan kenyang mulai dari Rp. 11.500. Bagi warga Ibukota harga ini setara dengan harga warteg tapi menu pas- pasan, berbeda cerita kalau disini karena kita akan dimanjakan dengan berbagai macam sayuran. Wajar saja sih kalau tempat ini selalu ramai karena beberapa faktor tadi, juga rasa makanannya yang seperti masakan rumahan yang sederhana namun mengenyangkan. Percayalah, ketika traveling pasti ada saat dimana kita merindukan masakan mama, masakan khas rumah. Lalu, untuk kopi klotok khas pakem sendiri kental dan pahitnya lebih terasa karena racikan dari dapur sendiri, bukan menggunakan kopi instan. Rasanya memang kopi hitam berkarakter karena kopinya direbus menjadi satu dengan air dipanci.



Ohiya, ada satu hal lagi yang sebenarnya membuatku kagum akan tempat ini. Jadi, setelah makan aku pergi kekamar mandi untuk persiapan menuju destinasi selanjutnya. Setelah itu enggak sengaja ditunjukkin kamar mandi pemilik rumah oleh salah satu tukang parkir disitu. Kebetulan, lagi antri juga ketika itu. Nah, disitu ada mbah yang lagi tirisin sayuran dan enggak sengaja juga aku ngobrol sama beliau. Aku nanya sama mbah tsb apa mbah ini yang punya warung kopi klotok? Beliau langsung menjawab 

"bukan ndok, yang punya ini orang DPR. Orangnya baik, selalu ngasih rezeki ke anak yatim dan janda sekitar sini. Makanya ini rezeki semua orang". 

Saat itu juga aku langsung lemes pengen nangis, betapa mulia hatinya makanya Alloh ngebales dengan rezeki berkali lipat. Sedangkan aku masih jauh bagai rempahan rengginang yang belum bisa berbuat apa- apa. Pemilik kopi klotok sengaja memperkerjakan orang- orang sekitar yang aku rasa memang perlu dibantu. Dan aku pikir inilah kenapa warung kopi klotok enggak pernah sepi dari pengunjung. Karena bukan hanya rezeki dari pemilik warung kopi aja, tapi disini juga terdapat rezeki anak yatim dan Janda yang sudah sepuh. 

Dari setiap perjalanan yang aku lakuin, semakin membuka mata untuk menjadi manusia yang lebih baik lagi dan bermanfaat pastinya. Dampak traveling sangatlah positif menurutku, jadi aku pikir aku harus menempatkan posisi traveling kedalam menu prioritasku walau destinasinya hanya yang dekat dengan rumah saja. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Glamour with Vitalis? Why Not !