Explore Sulawesi Selatan : Itinerary travel ala backpacker




Awal dari perjalanan ke Sulawesi tadinya bertujuan ke Sombori- Labengki, namun sayangnya Tuhan berkehendak lain. Jadi pas udah mendekati hari H, aku baru tau sistem open trip disana itu engga setiap minggu jalan. Mentok- mentok ditawarin private trip yang harganya bisa bikin dompet nangis. "Mungkin belum saatnya kali yah" pikirku ketika dibandara. Tapi disatu sisi tiket udah terlanjur ditangan dan sayang juga kalo sampe gak jadi berangkat, secara tiket enggak bisa direfund ataupun reschedule (maklum tiket promo hehe).

Mau enggak mau, pokoknya kita harus berangkat ntus. Ya walaupun pas disana cuma sekedar tidur dihotel doang, yang penting kaki kita udah sampeh tanah Sulawesi. Begitulah omonganku kesahabatku yang galau akut antara berangkat dan enggak. Ditambah lagi dengan kondisi fisikku yang ketika mau berangkat tiba- tiba drop parah. Ya ampun kalo inget kejadian kemarin bener- bener ngerasa yang nekat banget gitu sih.

Malam hari ketika udah sampe di Makassar, tiba dihotel langsung tepar dan udah pasrah aja dikasur. Keesokan hari alhamdulillah udah ngerasa lebih baik. Beruntungnya, kami bertemu dengan traveler lain, yakni 2 kakak dan ibu mereka yang keren abis. Akhirnya setelah ngobrol - ngobrol ternyata mereka juga ingin pergi ke Tanah Toraja. Sebenernya pas udah tau kalo kami gak bakal ke Sombori, emang ada planning bakal explore Makassar aja. Dan alhamdulillah bisa terwujud bahkan lebih dari itu, karena bisa explore Sulawesi Selatan juga.

Sore hari kami keluar dari hotel ke fort rotterdam untuk mencari angin segar. Beruntungnya, di Makassar sudah banyak taksi online sehingga makin memudahkan traveler untuk bepergian. Disini, tidak ada tiket masuk tapi cukup mengisi nama pada buku kunjungan. Setelah mengelilingi benteng, kami lanjut ke ikon Makassar, yakni pantai Losari. Cuaca sore itu kurang mendukung karena gerimis yang tak kunjung henti. Dengan terpaksa kami hanya berfoto didepan tulisan Pantai Losari. Kebetulan haripun sudah gelap, sekalian saja kami membeli makan malam didepan pantai dan setelah itu pulang ke hotel. Istirahat beberapa jam untuk menyiapkan perjalanan menuju Toraja pukul 1 malam.





Butuh waktu 9 jam perjalanan darat dari Makassar untuk sampai ke tanah Toraja. Berlima kami menggunakan mobil sejenis Ayla hasil dari perkenalan dengan abang grab yang akhirnya mau ngasih harga yang lumayan miring dan untungnya abang grab ini orangnya asik juga. Sebenarnya ada bus umum untuk ke Toraja dimana sekali perjalanan cukup membayar Rp. 130.000, tapi sayangnya kami mencari transportasi yang lebih simpel dan fleksibel karena disana kami gak punya kenalan satupun. Otomatis ketika sampai Toraja kami harus menyewa kendaraan lagi kalau memang kami menggunakan bus umum. Untuk harga, lebih hemat cara kami karena sharing cost berlima walaupun harus sempit- sempitan didalam mobil. Ya mau murah emang kudu berjuang sih.

Setelah melewati perjalanan yang berkelok parah dan lumayan gelap karena lampu disekitar jalan belum ada akhirnya jam 9 pagi kami sampai juga di Toraja. Melewati gunung nona enrekang yang kece bisa menghilangkan kejenuhan kami untungnya. Tujuan utama kami di Toraja adalah kuburan gantung yang berada di tebing. Setelah berunding, kami memutuskan untuk pergi ke Kete' ketsu sebagai tempat pertama yang kami singgahi. Di Kete' ketsu sendiri terdapat berbagai tongkonan seperti yang terlihat sepanjang perjalanan dan juga kuburan gantung. Biasanya juga, adat Toraja Utara yang khas dilakukan ditempat ini. Tongkonan itu rumah adat masyarakat Toraja yang umurnya bisa mencapai ratusan tahun. Sayangnya ketika kami kesana, sedang tidak ada upacara adat.












Tujuan kedua kami adalah Londa. Letaknya tidak jauh dari kete' ketsu karena sama- sama di Toraja Utara. Disini juga terdapat kuburan gantung yang aku rasa lebih mistis karena ada patung bangsawan yang dipajang seolah- olah sedang memperhatikan kami. Setelah puas keliling dan berfoto, kami membeli oleh- oleh khas Toraja yakni kopi dan kerajinan tangan berupa etnik dan lain- lain. Sengaja beli di Londa, karena kata abang yang nganter kalau di Makassar harganya bisa dua kali lipat dan kenyataannya emang benar begitu.

Tujuan ketiga tadinya adalah Patung yesus Makale, kata google sih patung yesus tertinggi didunia. *applause. Namun, kami belum berkesempatan kesana karena jalanan yang menanjak dan bebatuan mengakibatkan mobil yang kami pakai hampir terperosok keselokan. Yakali enggak lucu aja kalau dipaksain naik tapi keadaan kaya gitu. Semoga aja nantinya ada perbaikan jalan menuju kesana supaya makin banyak wisatawan yang mengunjungi patung yang kemungkinan bakal jadi ikon Toraja tsb.

Ohiya, untuk makanan khusus untuk yang muslim lebih baik mencari tempat makan yang berlabel Halal. Karena disana banyak dijual Bakso babi, khawatirnya karena enggak tau nanti salah makan. Setelah berunding, kami memutuskan untuk kembali ke Makassar. Namun ketika diperjalanan, siapa sangka tiba- tiba kepikiran untuk ke Bulukumba. Kata orang, disana ada pantai yang cantik seolah memanggil untuk dikunjungi. Akhirnya nego harga sampai cocok, berangkatlah kami ke Bulukumba. Rasanya dua hari enggak ketemu kasur itu.... ya kalian bisa bayangin sendiri kan?

Cangkeul. Kalo kata orang sunda sih begitu ; pegel. Untungnya pemandangan selama perjalanan menyejukkan mata. Sore hari menginjakkan kaki di Bulukumba, namun sayangnya kurang menikmati pemandangan disana. Selain karena terlalu padat pengunjung ( kebetulan berbarengan dengan liburan anak sekolah), hari yang sudah sore pun sudah tidak memungkinkan untuk melakukan aktivitas air seperti snorkeling. Padahal perjalanan cukup panjang untuk sampai disana. Mungkinkah ini pertanda kalau aku harus kembali lagi? Hihi, semoga.




Bersambung.....


Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Waroeng Kopi Klotok Pakem : wisata kuliner pembuka mata hati

Glamour with Vitalis? Why Not !